Pemasaran

1. BANDENG

JALUR PEMASARAN

Jalur pemasaran bandeng di wilayah Sidoarjo relatif pendek (Gambar 3.1). Bandeng dari tambak sebagian besar (84%) dibawa oleh petambak ke tempat pelelangan ikan /TPI (Bappekap Sidoarjo dan FE UNAIR, 2003). TPI bisa berlokasi di tempat khusus yang telah dibangun dan disediakan pemerintah atau di tepi-tepi tambak tertentu. Aktivitas di TPI umumnya berlangsung pagi sekali atau sore sekali. Dalam sebuah TPI biasanya terdapat beberapa agen yang akan menjadi juru lelang, tetapi ada juga TPI yang hanya mempunyai satu agen. TPI dengan banyak agen lebih disukai petambak karena petambak memiliki alternatif tempat penjualan sehingga kekuatan agen untuk menekan petambak menjadi berkurang.

Gambar 3.1 Jaringan Pemasaran Bandeng Sidoarjo

Bandeng yang telah sampai di agen selanjutnya akan dilelang oleh agen kepada pedangang besar. Di sini petambak hanya bisa menyaksikan transaksi tanpa dapat mempengaruhi apapun, bahkan siapa pembeli bandengnya petambak tidak mengetahui. Jika bandeng telah terjual maka petambak hanya akan menerima nota bahwa bandeng seberat sekian terjual dengan harga sekian. Sementara itu pembayaran dilaksanakan paling cepat satu minggu setelah transaksi. Sebagai juru lelang agen akan menerima pendapatan 5% dari nilai transaksi.

Bandeng yang telah dibeli pedagang besar selanjutnya didistribusikan ke restoran, perusahaan pengolahan ikan dan pedagang pengecer di pasar-pasar tradisional. Distribusi ke restoran dan perusahaan pengolahan umumnya berdasarkan pesanan oleh karena itu jika pedagang besar telah memperoleh pesanan mereka akan melakukan sortir bandeng sesuai pesanan yang diterima. Dengan demikian bandeng yang didistribusikan kepada pedagang pengecer adalah sisa bandeng pesanan.

Bandeng akan dijumpai konsumen di pasar tradisional, pasar kering (supermarket) atau restoran/toko penjual oleh-oleh khas Sidoarjo. Di pasar tradisional bandeng dijual secara eceran sesuai selera pembeli dan tawar menawar menjadi ciri khas pasar tradisional. Sementara jika bandeng telah berada di pasar kering maka konsumen hanya bisa menerima harga yang telah ditentukan penjual.

Bandeng yang tidak dijual melalui TPI bisa mengalir langsung ke pengecer atau ke konsumen. Bandeng yang dijual langsung ke pengecer tercatat hanya 4% sedangkan yang langsung ke konsumen 12% (Bappekab Sidoarjo dan FE UNAIR, 2003). Penjualan langsung ke pengecer atau konsumen tidak mudah dilakukan petambak mengingat besarnya volume barang yang harus dijual sementara petambak tidak memiliki keahlian untuk memasarkan bandengnya.

Foto . Suasana Pelelangan Bandeng

2. Udang

Rantai Pemasaran

Pembudidaya udang galah dapat menjual produksinya melalui dua cara:
a. Dipasarkan sendiri dengan sistem door to door untuk menjaring konsumen rumah tangga dan rumah makan.
b. Dijual ke pengepul untuk kemudian dipasarkan oleh pengepul ke pedagang pengecer, rumah makan dan pasar swalayan.

Dalam rangka pemasaran tersebut, kelompok pembudidaya baik di wilayah survey di DIY maupun di Bogor telah menjalin kerjasama dengan beberapa rangkaian pasar swalayan. Diagram Alir 1. berikut ini menggambarkan rantai pemasaran udang galah, yang masih relatif sederhana.

Diagram Alir 1. Rantai Pemasaran Udang Galah


Catatan : Konsumen akhir meliputi: Hotel, Rumah tangga, Rumah makan dan Pasar swalayan

Masalah Pemasaran

Masalah yang dihadapi oleh sebagian besar pembudidaya udang galah dalam memasarkan produknya antara lain adalah produk belum standar dalam hal jenis dan ukuran; serta kondisi fisik dari produk belum memenuhi persyaratan mutu. Dengan masih adanya masalah tersebut, pengepul sebagai pembeli produk kadang kecewa dengan hasil panen yang dibeli karena tidak sesuai dengan klasifikasi udang yang diinginkan.

Demikian pula, belum dikuasainya teknologi pasca panen dan kurangnya peralatan pengemasan dan transportasi untuk pengiriman jarak jauh, menyebabkan jangkauan pemasaran hasil produk masih terbatas atau hanya berorientasi lokal. Namun demikian, diperoleh informasi bahwa Puslit Limnologi LIPI Bogor telah berusaha menciptakan alat transportasi darat berupa mobil pick-up berkapasitas 50 kg yang dilengkapi dengan aerator dan mampu digunakan untuk memindahkan udang dalam jangka waktu sampai dengan 12 jam.

Untuk ekspor, masalah yang dihadapi adalah belum terjaminnya kesinambungan pasokan; belum terpenuhinya ukuran udang galah ekspor yaitu udang berukuran super; dan belum terpenuhinya persyaratan mutu sebagai komoditas ekspor, khususnya baku mutu kandungan bakteri, kandungan logam berat dan residu antibiotik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: