Harga

1. BANDENG

HARGA BANDENG

Harga bandeng ditentukan oleh berapa faktor, antara lain:

  1. Wilayah produksi dan daerah pemasaran. Makin jauh bandeng dari wilayah produksi maka makin mahal harganya.
  2. Kualitas bandeng yang dihasilkan. Semakin bagus kualitas bandeng makin mahal harganya. Pengecekan kualitas badeng dapat dilihat dari beberapa cara yakni:
    1. Rupa : cemerlang sampai kotor
    2. Bau : amis spesifik sampai busuk
    3. Tekstur : elastis kompak sampai lunak sekali
    4. Mata : cembung, transparan, pupil hitam sampai kornea putih, kotor, pupil putih tenggelam
    5. Insang : merah cerah, filamen teratur, amis segar, tidak berlendir sampai memutih kotor, bau, filamen menyempit
    6. Daging : pinkish agak transparan, bening, cemerlang sampai elastis kompak tak ber-air lengket dan mudah membubur.
  3. Ukuran bandeng. Semakin besar ukuran bandeng semakin tinggi harga setiap kg-nya. Di wilayah Sidoarjo dikenal beberapa ukuran bandeng yakni:
  4. a. Bandeng umpan/balian : 10-12 ekor per kg
    b. Bandeng biasa/normal : 3 – 4 ekor per kg
    c. Bandeng super : 1 – 2 ekor per kg
    d. Bandeng super besar : 1 ekor 4 kg

Bandeng umpan, biasa dan super diproduksi dan diperdagangkan secara rutin setiap saat. Pada masa tertentu dihasilkan pula bandeng super besar dengan ukuran sekitar 4 kg per ekor. Bandeng super besar yang masa pemeliharaannya mencapai 4 tahun tidak sulit dijumpai di pasar pada hari-hari besar Islam yang biasanya menjadi hari pesta bagi sebagian masyarakat. Bandeng super besar ini juga menjadi komoditi yang dilombakan pada hari-hari tertentu dan dilelang. Setiap tahun di Sidoarjo bandeng super besar yang dilelang menghasilkan pendapatan jutaan rupiah bagi pemiliknya. Berbagai ukuran bandeng konsumsi dapat dilihat pada foto 1 sampai foto 3.

Foto 1. Beberapa Ukuran Bandeng Kecil


Ket: paling kanan bandeng umpan dan paling kiri bandeng normal

Foto 2 Bandeng Ukuran Besar


Ket: paling kanan bandeng ukuran 1 kg, tengah 0,5 kg dan kiri 3 ons

Foto 3 Bandeng Super Besar dengan Berat Mencapai 4 kg per ekor

Mengikuti jalur pemasaran yang umum maka ada tiga tingkatan harga yang terjadi, yaitu:

  1. Harga yang terbentuk di TPI yaitu harga yang diterima petambak. Pada tingkat ini harga terbentuk sepenuhnya berdasar kekuatan permintaan dan penawaran.
  2. Harga yang terbentuk di tingkat pedagang besar. Harga pada tingkat ini ditentukan oleh pedagang besar.
  3. Harga di tingkat konsumen. Pada tingkat ini kembali harga ditentukan oleh kekuatan tawar antara penjual (pedagang pengecer) dan pembeli (konsumen).

Pada saat penelitian, akhir Mei 2004, harga bandeng berbagai ukuran dapat dilihat pada Tabel 3.6. Dari Tabel tersebut dapat dilihat bahwa semakin besar ukuran bandeng maka semakin tinggi harganya dan semakin besar margin yang diterima pelakunya. Namun demikian ukuran yang paling disukai konsumen umumnya adalah bandeng ukuran normal. Sementara itu jika bandeng telah diolah harganya dapat meningkat beberapa kali lipat. Sebagai gambaran, harga bandeng asap atau bandeng presto ukuran normal yang telah dikemas sehingga rapi dan tahan lama adalah Rp. 22.000,- per ekor. Artinya melalui proses pengolahan bandeng ukuran normal yang harganya Rp 8.000,- per 3 ekor menjadi Rp 66.000,-

Tabel 3.6.
Harga Bandeng Berbagai Ukuran dan pada Berbagai
Tingkatan Pemasar (Rp per kg)

Ukuran Bandeng Pelelangan Pedagang Besar Pengecer
Balian/umpan 10-12 ekor 2.200 3.000 3.500
Normal
3-4 ekor
6.000 7.000 8.000
Super
1-2 ekor
8.000 10.000 12.000

2. UDANG

Harga

Harga udang galah ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain: a) wilayah produksi dan pemasarannya; b) kondisi udang; c) jumlah udang per kilogram (kg) atau per pound (lb) atau ukuran udang. Harga udang makin mahal apabila ukuran makin besar atau udang dalam kondisi hidup. Di Indonesia udang galah dikelompokkan menjadi beberapa kategori menurut jumlah udang per kg sebagai berikut:
a. Besar:
– Super : 10-15 ekor
– Biasa : 20-25 ekor
b. Medium : 30-40 ekor
c. Kecil : 40-60 ekor

Sedangkan udang galah yang berkondisi baik adalah yang dapat memenuhi kriteria sebagai berikut: a) Berwarna biru gelap (badannya berwarna kehijauan); b) Berkulit keras, bersih tidak ditempeli efibion dan tidak cacat fisik; c) Tidak berbau lumpur; dan d) Kondisi fisik masih segar dan utuh. Pada Foto 2. ditampilkan udang galah yang baik dengan ukuran super.

Foto 2. Udang Ukuran Super.

Foto udang galah ukuran super, dengan berat sampai dengan 100 gr per ekor,
bandingkan besarnya dengan tangan si pembawa.

Sumber: Dr. Fauzan Ali, Puslit Limnologi LIPI, Bogor.

Harga jual udang galah terbentuk di dua tingkat, yaitu :

  1. Di tingkat pembudidaya yang menjual produk ke pengepul.
  2. Di tingkat pengepul yang menjual produk yang ditampungnya ke konsumen akhir yaitu pedagang pengecer, hotel, rumah makan, dan pasar swalayan.

Harga jual udang galah ke pengepul lebih rendah daripada harga jual langsung ke konsumen rumah tangga. Pada saat survey, yaitu bulan Mei 2003 di Yogyakarta harga jual udang ukuran medium di tingkat pembudidaya adalah Rp.29.000 sampai dengan Rp.34.000 per kilo. Di Jawa Barat harga udang galah sekitar Rp.35.000 – Rp.37.000 per kg, sedangkan di Bali mencapai Rp.40.000. Di tingkat pedagang pengecer dan pasar swalayan di Jakarta, harga udang galah dapat mencapai Rp.75.000 -Rp.85.000 per kg. Di pasar swalayan tertentu untuk udang ukuran medium harganya bisa mencapai lebih dari Rp. 100.000.

Peluang Pasar

Peluang pasar bagi produk udang galah masih terbuka lebar, terutama untuk ekspor karena adanya permintaan dari beberapa negara yang masih belum dapat terpenuhi oleh produksi dalam negeri. Dengan semakin mahalnya harga udang windu, maka diharapkan makin banyak konsumen yang beralih ke udang galah. Hal ini merupakan peluang pasar yang cukup bagus untuk dimanfaatkan.

Data statistik mengenai perkembangan ekspor udang galah belum tersedia. Untuk itu, sebagaimana halnya dengan informasi permintaan, data yang digunakan untuk menyajikan informasi mengenai ekspor adalah data udang secara umum. Pada Tabel 5 disajikan informasi mengenai 10 besar negara yang menjadi tujuan ekspor dari produk udang Indonesia pada tahun 2000.

Tabel 5. Sepuluh Besar Negara Tujuan Ekspor Udang Indonesia Tahun 2000

No. Negara Volume Ekspor

(Ton)

1 Jepang 54.064
2 Amerika Serikat 16.216
3 Hongkong 7.164
4 Belanda 6.900
5 Singapura 6.572
6 Malaysia 5.236
7 Inggris 4.218
8 Taiwan 2.623
9 RRC 2.223
10 Belgia & Luxemburg 2.011

Sumber : Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya
Departemen Kelautan & Perikanan,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: