Tambak Bandeng

Bandeng adalah jenis ikan konsumsi yang tidak asing bagi masyarakat. Bandeng merupakan hasil tambak, dimana budidaya hewan ini mula-mula merupakan pekerjaan sampingan bagi nelayan yang tidak dapat pergi melaut. Itulah sebabnya secara tradisional tambak terletak di tepi pantai. Bandeng merupakan hewan air yang bandel, artinya bandeng dapat hidup di air tawar, air asin maupun air payau. Selain itu bandeng relatif tahan terhadap berbagai jenis penyakit yang biasanya menyerang hewan air. Sampai saat ini sebagian besar budidaya bandeng masih dikelola dengan teknologi yang relatif sederhana dengan tingkat produktivitas yang relatif rendah. Jika dikelola dengan sistim yang lebih intensif produktivitas bandeng dapat ditingkatkan hingga 3 kali lipatnya.

Dari aspek konsumsi bandeng adalah sumber protein yang sehat sebab bandeng adalah sumber protein yang tidak mengandung kolesterol. Bandeng presto, bandeng asap, otak-otak adalah beberapa produk bandeng olahan yang dapat dijumpai dengan mudah di supermarket. Selama sepuluh tahun terakhir permintaan bandeng meningkat dengan 6,33% rata-rata per tahun, tetapi produksi hanya meningkat dengan 3,82%.

Budidaya bandeng tidak menimbulkan pencemaran lingkungan baik air kotor maupun bau amis. Pemeliharaan bandeng yang sehat mensyaratkan air dan tambak yang bersih serta tidak tercemar.

Studi ini menjelaskan beberapa aspek budidaya bandeng yang dimulai dengan profil budidaya bendeng secara umum pada bab 2. Pemasaran di wilayah penelitian dan prediksi permintaan dan penawaran tingkat nasional dijelaskan pada bab 3. Aspek teknis pemeliharaan intensif disajikan pada bab 4. Bab 5 secara khusus menyajikan aspek keuangan budidaya bandeng pola pemeliharaan semi intensif. Bab 6 membahas peran budidaya bandeng dan masalah yang dihadapi, ditutup dengan bab 7 kesimpulan dan saran untuk pengembangan usaha budidaya bandeng.

PROFIL USAHA.

Bandeng merupakan jenis ikan yang bisa dibudidayakan pada tambak. Potensi tambak Indonesia tersebar di seluruh tanah air, hanya ada tiga propinsi yang tidak memiliki tambak yakni Sumatera Barat, DKI dan DIY. Propinsi Jawa Timur merupakan propinsi dengan tambak terluas. Tahun 2000 tambak Jawa Timur tercatat seluas 53.423 ha atau 15% dari luas tambak di tanah air (BPS, 2002). Sementara itu di Jawa Timur pusat tambak terletak di Kabupaten Gresik dan Sidoarjo dengan luas tambak masing-masing 38,44% dan 32,17% dari luas tambak Jawa Timur (Dinas Statistik Propinsi Jawa Timur, 2003). Mengacu pada data di wilayah Sidoarjo, lebih dari 60% tambak adalah tambak bandeng.

Selama sepuluh tahun terakhir (1990-2003) pertumbuhan luas tambak maupun produksinya memiliki trend yang positif. Dari tahun 1990-2000 luas tambak tumbuh 2,97% rata-rata per tahun sedangkan pertumbuhan produksi tambak 3,16%. Sementara itu produktivitas tambak berfluktuasi dari tahun ke tahun tetapi berkisar pada angka 700-800 kg per ha

Penyediaan Benih.

Usaha penyediaan benih (nener) secara kontinyu  dengan mutu yang baik dilakukan dengan sistem pembenihan yang intensif pada kolam-kolam khusus, yaitu kolam pematangan induk, pemijahan, peneneran dan kolam pembsaran. Dalam pembenihan bandeng langkah yang dilakukan adalah :
1. Pemilihan induk yang unggul . Induk yang unggul akan menurunkan sifat-sifatnya kepada keturunannya, Ciri-cirinya :
– bentuk normal, perbandingan panjang dan berat ideal.
– ukuran kepala relatif kecil, diantara satu peranakan pertumbuhannya paling cepat.
– susunan sisik teratur, licin, mengkilat, tidak ada luka.
– gerakan lincah dan normal.
– umur antara 4 5 tahun.

2. Merangsang pemijahan. Kematangan gonad dapat dipercepat dengan penggunaan hormone LHRH (Letuizing Hormon Releasing Hormon) melalui suntikan.`

3. Memijahkan. Pemijahan adalah pencampuran induk jantan dan berina yang telah matang sel sperma dan sel telurnya agar terjadi pengeluaran (ejakulasi) kedua sel tersebut. Setelah berada di air, sel sperma akan membuahi sel telur karena sistem pembuahan ikan terjadi diluar tubuh. Pemijahan dilakukan pada kolam khusus pemijahan

4. Penetasan. Telur yang mengapung di kolam pemijahan menetas setelah 24 – 26 jam dari awal pemijahan. Telur yang telah menetas akan menjadi larva yang masih mempunyai cadangan makanan dari kuning telur induk, sehingga belum perlu diberi pakan hingga umur 2 hari.

5. Merawat benih. Setelah berumur 9 hari larva dipindahkan ke kolam pemeliharaan nener . Di kolam ini larva diberi pakan alami berupa plankton. Penumbuhan plankton dilakukan dengan pemupukan dan pengapuran. Pemupukan yang tepat adalah dengan pupuk TON (TAMBAK ORGANIK NUSANTARA) yang mengandung berbagai unsur mineral penting untuk pertumbuhan plankton, diantaranya N,P,K,Mg, Ca, Mg, S, Cl dan lain-lain, juga dilengkapi dengan asam humat dan vulvat yang mempu memperbaiki tekstur dan meningkatkan kesuburan tanah dasar kolam dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100 m2 pada tiap pemasukan air. Waktu peneneran 8 minggu. Pakan yang diberikan berupa tepung dengan kadar protein 30%. Untuk menambah nutrisi pakan pencampuiran pakan dengan NASA dengan dosis 2 – 5 /kg pakan sangat diperlukan, karena NASA mengandung unsur-unsur mineral penting yaitu N,P,K,Mg,Fe,Ca,S dan lain-lain, vitamin, protein dan lemak untuk meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan nener.

Pembesaran.
Setelah dipelihara di kolam peneneran selama 8 minggu, bandeng dipindahkan ke kolam pembesaran. Teknis pembesaran bandeng meliputi beberapa hal, yaitu :
1. Persiapan lahan.
Tahap ini dilakukan sebelum pemasukan air. kegiatan yang dilakukan selama persiapan lahan adalah :
– Pencangkulan dan pembalikan tanah. Bertujuan untuk membebaskan senyawa dan gas beracun sisa budidaya hasil dekomposisi bahan organik baik dari pakan maupun dari kotoran. Selain itu dengan menjadi gemburnya tanah, aerasi akan berjalan dengan baik sehingga kesuburan lahan akan meningkat.
– Pengapuran. Selama budidaya, ikan memerlukan kondisi keasaman yang stabil yaitu pada pH 7 – 8. Untuk mengembalikan keasaman tanah pada kondisi tersebut, dilakukan pengapuran karena penimbunan dan pembusukan bahan organik selama budidaya sebelumnya menurunkan pH tanah. Pengapuran juga menyebabkan bakteri dan jamur pembawa penyakit mati karena sulit dapat hidup pada pH tersebut. Pengapuran dengan kapur tohor, dolomit atau zeolit dengan dosis 1 TON /ha atau 10 kg/100 m2.
– Pemupukan. Fungsi utama pemupukan adalah memberikan unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan pakan alami, memperbaiki struktur tanah dan menghambat peresapan air pada tanah-tanah yang tidak kedap air (porous). Penggunaan TON untuk pemupukan tanah dasar kolam sangat tepat, karena TON yang mengandung unsur-unsur mineral penting, dan asam-asam organik utama memberikan bahan-bahan yang diperlukan untuk peningkatan kesuburan lahan dan pertumbuhan plankton. Dosis pemupukan TON adalah 5 botol/ha atau 25 gr/100 m2.
– Pengelolaan air. setelah dilakukan pemupukan dengan TON, air dimasukkan hingga setinggi 10 – 20 cm kemudian dibiarkan beberapa hari, untuk menumbuhkan bibit-bibit plankton. Air dimasukkan hingga setinggi 80 cm atau menyesuaikan dengan kedalaman kolam.

2. Pemindahan nener. Setelah plankton tumbuh (warna air hijau) dan kecerahan sedalam 30 – 40 cm, nener di kolam peneneran dipindahkan ke kolam pembesaran dengan hati-hati dengan adaptasi terhadap lingkungan yang baru.

3. Pemberian Pakan. Sesuai dengan sifat bandeng yang termasuk hewan herbivore, maka ikan ini suka memakan tumbuh-tumbuhan yang ada di kolam. Tumbuhan yang disukai bandeng adalah lumut, ganggang dan klekap. Untuk mempercepat pertumbuhan, perlu pakan buatan pabrik, dengan standar nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh optimal dengan kadar protein .minimal 25 – 28 %.

Sebagai hewan herbivora, unsur tumbuhan dalam pakan memang sangat penting,. Oleh karena itu, sebaiknya bahan baku unsur protein harus didominasi dari sumber tumbuhan atau nabati dari tepung kedelai atau bungkil kacang tanah. Sebagai acuan pemberian pakan adalah : Jumlah pakan 5 – 7% dari berat badan. Waktu pemberian 3 – 5 kali sehari.

Penambahan NASA pada pakan buatan merupakan pilihan yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tubuh bandeng. NASA mengandung mineral-mineral penting, protein, lemak dan vitamin akan menambah kandungan nutrisi pakan. Dosis pencampuran NASA dengan pakan buatan adalah 2 – 5 cc/kg pakan dengan cara :
1. Timbang pakan sesuai dengan kebutuhan bandeng.
2. Basahi pakan dengan sedikit air agar pencampuran dengan NASA dapat merata.
3. Campurkan NASA sesuai jumlah pakan yang diberikan dengan dosis 2 – 5 cc/kg pakan.
4. Pakan siap untuk diberikan.
Pemberian pakan dengan menyebarkan secara merata pada seluruh areal kolam, agar seluruh bandeng dapat pakan.

Fisik Tambak

Bentuk tambak berbeda untuk setiap daerah dan setiap tahap budidaya yang dipilih. Di Jawa Timur bentuk fisik tambak relatif lebih rumit dibanding Jawa Barat. Gambar 4.2 adalah bentuk fisik tambak Jawa Timur untuk pengelolaan intensif yang dimulai dari pendederan. Petak pendederan digunakan untuk membesarkan nener sampai nener mencapai ukuran glondongan. Petak pembuyaran digunakan untuk memelihara glondongan dan petak pembesaran untuk memelihara bandeng sampai usia konsumsi. Petak peneneran juga berfungsi sebagai petak untuk melakukan panen. Petak pembagi air adalah petak yang pertama menerima air dari saluran irigasi selanjutnya air dibagikan ke petak lainnya. Saluaran air adalah irigasi (sungai) tempat tambak mengambil dan membuang air. Pada pinggiran tambak umumnya dibuat semacam selokan (lantai tambak lebih dalam dari lainnya) yang disebut caren. Caren berfungsi sebagai tempat bandeng berteduh ketika cuaca panas dan penampung lumpur.
Gambar 4.2 Tambak Model Jawa Timur

Jika budidaya hanya usaha pembesaran atau pendederan maka petak tambak hanya dua yakni petak pembagi air yang sekaligus berfungsi sebagai areal pemanenan dan tambak pemeliharaan. Demikian juga untuk tambak yang dikelola secara tradisional, walaupun budidaya dimulai dari menebar nener namun tidak dilakukan pemisahan untuk berbagai umur bandeng.

Pematang adalah bagian penting dari tambak yang berfungsi sebagai benteng ketika terjadi badai pasang, dan menjadi jalan untuk pengangkutan sarana produksi maupun hasil tambak. Dengan demikian yang terpenting dari pematang adalah kekuatan tambak, pada umumnya pematang utama dibangun dengan lebar antara 2 sampai 2,5 meter dengan ketinggian 0,5m diatas air pasang tertinggi. Sementara itu pematang antara bisa dibuat lebih sempit, umumnya 0,5 sampai 1,5 m dengan ketinggian sekitar 0,25m. Saluran air dibuat sedemikian rupa sehingga aliran air menjadi lancar.

Untuk membuat dan melengkapi tambak diperlukan beberapa bahan dan peralatan. Bambu dan pipa paralon adalah bahan yang diperlukan untuk membuat saluran air dari petak satu ke petak lainnya. Sementara di tambak juga terdapat peralatan yang diperlukan untuk kelancaran usaha antara lain, jaring hapa, seser/serok, ember plastik, tong fiber glass, keranjang, plastik lembaran, cangkul, arit, timbangan, linggis dan pompa air. Pada tambak pendederan diperlukan pula tabung gas untuk pengemasan saat panen. Perlengkapan tambak yang lainnya adalah rumah pandega/penjaga.
Foto 5 Tambak Pendederan Lengkap dengan Rumah Pandeganya

c. Pengelolaan Tambak

Agar tambak berfungsi optimal maka tambak harus memenuhi syarat lingkungan biologi (Tabel 4.2), salah satu cara agar tambak dapat memenuhi syarat lingkungan biologi adalah melakukan pengelolaan tambak. Pengelolaan tambak meliputi pengolahan lahan dan pemberian unsur tambahan serta pengaturan pengairan.

(1). Pengolahan lahan
Tujuan pengolahan lahan tambak adalah: (a). Menghilangkan lumpur yang berlebihan terutama di daerah caren yang merupakan arena mengendapnya lumpur. (b). Menghilangkan bahan organik yang merugikan. (c). Menutup lubang-lubang yang biasanya ada disisi tambak yang bisa menjadi jalan masuk binatang pemangsa dan menjadi jalan keluar bagi bandeng. (d). Memacu pertumbuhan bahan makanan alami bandeng, untuk itu yang dilakukan adalah pengeringan tambak dan pembalikan lahan.

Pengolahan lahan dilakukan setiap habis panen (menjelang masa tebar berikutnya). Pengeringan yang dilakukan tergantung kepada kondisi lahan. Jika lahan dalam kondisi buruk pengeringan bisa dilakukan sampai tanah dasar menjadi pecah-pecah. Jika kondisi lahan normal maka pengeringan dilakukan sampai tanah terbenam 1 cm jika diinjak. Setelah pengeringan dilakukan pembalikan tanah melalui proses brojul (bahasa jawa).

(2). Perbaikan dan pengontrolan pH
Tujuan pengontrolan pH adalah untuk menormalkan asam bebas dalam air, menjadi penyangga dan menghindari terjadinya guncangan pH air/tanah yang mencolok, memberi dukungan kegiatan bakteri pengurai bahan organik dan mengendapkan koloid yang mengapung dalam air sehingga kejernihan air terjaga.

Perbaikan pH dilakukan dengan dua cara yakni melalui pengeringan dan pemberian kapur. Dengan pengeringan pH yang turun pada saat pemeliharaan dapat ditingkatkan kembali. Pemberian kapur dilakukan saat pengeringan yakni saat pembalikan lahan. Prosesnya, sebelum lahan dibalik (dibrojul) taburkan kapur kemudian dilakukan pembalikan lahan, dengan cara ini maka kapur akan tersebar merata. Untuk lahan yang berpasir maka 3 ton kapur untuk setiap ha lahan adalah optimal, tetapi jika lahan semakin liat maka kapur yang diperlukan semakin banyak.

(3). Pemupukan
Tujuan pemupukan adalah menumbuhkan makanan alami bandeng yakni klekap (lab-lab), lumut dan fitoplankton dan menjaga kecerahan air. Jika yang diharapkan tumbuh adalah klekap maka yang diperlukan adalah pupuk kandang dengan dosis 350 kg/ha. Untuk lumut diperlukan pupuk compund (NPK) dengan dosis 20 gram per m3 air. Untuk pedoman praktis pemberian dilakukan 2 minggu sekali dengan dosis 2 kg urea dan 15 kg TSP untuk setiap ha tambak. Untuk fitoplankton flagellata dan fitoplankton diatoma pemberian pupuk diberikan dengan perbandingan N dan P tertentu. Sebagai bahan makanan alami, fitoplankton diatoma lebih disukai oleh bandeng.

(4). Oksigen terlarut dan suhu air
Oksigen terlarut sangat penting untuk orgasnisme air, jika oksigen terlalu banyak maka akan ada gelembung di lamela bandeng sedangkan jika terlalu sedikit maka bandeng akan mati lemas. Oksigen paling rendah terjadi pada waktu pagi yakni sesaat setelah matahari terbit. Sementara oksigen tertinggi terjadi sekitar jam 14.00-17.00. Untuk menjaga oksigen dalam kondisi optimal perlu dilakukan pengadukan air sekitar jam 13.00-15.00 dan pada malam hari. Pengadukan dan penambahan oksigen bisa dilakukan dengan menggunakan aerator.

Oksigen dan suhu air saling berhubungan, pada saat suhu naik maka oksigen turun. Pada suhu 120C bandeng akan mati kedinginan. Untuk menjaga agar suhu dan oksigen dalam keadaan optimal dilakukan pembuatan caren, sehingga saat suhu tinggi bandeng bisa bersembunyi dalam caren yang relatif lebih dalam dengan suhu yang lebih rendah dan oksigen tercukupi.

(5). Amonia dan asam belerang
Dua zat ini terbentuk dari sisa pakan, kotoran ikan maupun plankton dan bahan organik tersuspensi. Kedua zat ini bersifat meracuni bandeng. Makin tinggi suhu kemungkinan makin besar kandungan kedua zat ini. Oleh karena itu penjagaan suhu air sangatlah penting. Cara lain untuk menghilangkan kedua zat ini adalah dengan melakukan pengadukan dan pembuatan caren, pergantian air dan pengeringan lahan.

(6). Salinitas
Salinitas adalah tingkat keasinan atau ketawaran air, walaupun bandeng termasuk hewan air yang relatif bandel tetapi jika budidaya dilakukan secara intensif maka tingkat salinitas harus diperhatikan. Pada salinitas optimal energi yang digunakan untuk mengatur keseimbangan kepekatan cairan tubuh dan air tambak cukup rendah sehingga sebagian besar energi asal pakan dapat digunakan untuk pertumbuhan.

Pengaturan salinitas bisa dilakukan dengan cara penambahan air tawar dengan bantuan aerator. Melalui pengaturan ini tingkat salinitas bisa dihitung dengan rumus berikut:

 

Dimana:
S1 adalah salinitas air tawar (ppt)
S2 adalah salinitas air laut (ppt)
S3 adalah salinitas air yang diharapkan (ppt)
M1 adalah massa air tawar (m3)
M2 adalah massa air asin (m3)

(7). Logam berat dan pestisida
Logam berat dan pestisida berasal dari limbah pabrik atau sawah yang telah menggunakan sistim perairan intensif sehingga menghasilkan residu zat kimia. Kandungan logam berat dan pestisida akan menyebabkan kematian bandeng secara masal. Jika bandeng tahan terhadap pencemaran ini dan tidak mati maka akan menyebabkan keracunan bagi mereka yang mengkonsumsi bandeng yang terkontaminasi. Solusi dari masalah ini hanya menjauhkan tambak dari sumber polusi.

(8). Hama dan penyakit
Ada empat golongan hama tambak yakni:

  1. Predator/pemangsa yang terdiri dari ikan buas dan liar, kadal, kepiting dan berang-berang
  2. Kompetitor/ pesaing yang terdiri dari ikan liar dan siput
  3. Hama yakni penggali organisme pelapuk kayu dan kerang-kerang.
  4. Penyakit parasiter, yakni penyakit yang disebabkan oleh virus bakteri dan protozoa. Penyakit ini umumnya menyerang hewan air, tetapi sampai saat ini belum dijumpai kasus penyakit ini dalam tambak budidaya bandeng.

Predator masuk ke dalam tambak melalui saluran air atau lubang yang terdapat pada dinding tambak. Pengeringan tambak adalah cara pengendalian kompetitor dan hama. Untuk hama yang masuk melalui lubang air harus dilakukan penyaringan air pada saat memasukkan air ke dalam tambak. Saringan harus cukup kecil agar supaya tidak hanya binatangnya yang tidak masuk melainkan telurnya pun tidak masuk.

Foto 6. Tambak yang Sedang Dikeringkan

 

PEMBENIHAN

Benih bandeng disebut nener. Sebagian besar nener sampai saat ini masih diperoleh dengan cara penangkapan secara alamiah, hanya sebagian kecil benih nener yang dihasilkan oleh budidaya (hatchery). Potensi benih nener alami tersebar di seluruh pantai Indonesia dengan konsentrasi di 15 provinsi mulai dari Aceh, Lampung, Kaltim, Kalsel, Jabar, Jatim, Jateng, Bali, NTB, NTT, Sulsel, Sulteng, Sulut, Sulawesi Tenggara dan Maluku. Diperkirakan potensi nener alami mencapai 1,5 miliar ekor setiap tahun, padahal yang dimanfaatkan baru berkisar pada angka 1 milyar ekor setiap tahun.

Nener yang dijual untuk dipelihara umumnya berumur antara 21 hari sampai 28 hari. Secara fisik besar nener dengan umur tersebut adalah seukuran jarum dan tubuhnya transparan dengan panjang sekitar 12 -13 mm. Nener mempunyai tiga titik ditubuhnya yakni dua mata dan satu di perut.

Nener yang ditangkap berasal dari laut dalam. Bandeng dewasa melepaskan telurnya ditengah laut yang berjarak sekitar 9 km dari garis pantai. Telur itu mengambang dan dibawa ombak, dalam perjalanan telur menetas dan terbawa ke pantai atau muara sungai. Nener inilah yang ditangkap, penangkapan nener tidak sulit walaupun nener bergerak lincah sebab umumnya nener berenang dalam kelompok. Di pasar lokal saat ini (tahun 2004) nener berukuran 12-13 mm dihargai Rp 70.000, per rean .

PENDEDERAN/PENGGLONDONGAN

Pendederan adalah proses budidaya dari nener menjadi glondongan. Pola pemeliharaan tahap pendederan umumnya dilakukan secara intensif atau semi intensif. Hal ini dimaksudkan agar dapat mengatur waktu panen sehingga sesuai dengan siklus permintaan tambak pembesaran. Glondongan dijual dalam berbagai ukuran tergantung permintaan. Variasi output pendederan di wilayah Gresik dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3.
Berbagai Ukuran Glondongan dengan Usia dan Harganya

Istilah setempat

Ukuran (Cm)

Lama pemeliharaan (minggu)

Harga (Rp/rean)

Glondongan

Kasaran

Semi

Semi Super

Balian

2-4

4-6

8-10

10-12

12-14

2

4

6

8

10

200.000

500.000

800.000

1.200.000

dijual kiloan

Sumber : Data primer

Pemeliharaan nener umumnya dilakukan sejak nener ditebar sampai umur 8 minggu. Sebelum nener ditebar sebaiknya tambak ditancapi rumpon yang berfungsi sebagai pelindung nener dari sengatan matahari dan dilakukan aklimatisasi terhadap nener. Aklimatisasi atau penyesuaian terhadap lingkungan merupakan hal yang penting dalam pemindahan dari tahap satu ketahap berikutnya. Hal ini untuk mencegah stress yang menyebabkan kematian. Aklimatisasi dapat dilakukan dengan cara membiarkan kantong plastik mengapung di air tambak, setelah temperatur, keasaman air dan salinitas air hampir sama, kantong plastik bisa dibuka. Umumnya waktu yang diperlukan untuk aklimatisasi adalah setengah hari. Pada saat penebaran nener usahakan agar salinitas berada pada kisaran 10-15 permil. Penebaran nener sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari saat suhu masih rendah.

Selama dalam pendederan 10% air diganti setiap hari dengan waktu pergantian paling baik pada pukul 11.00-15.00. Pemberian makanan untuk pendederan perlu dilakukan jika nener yang ditebar lebih dari 5.000 ekor. Makanan tambahan berupa makanan jadi yang berbentuk tepung dangan cara ditabur. Makanan diberikan setiap 4 jam sekali dengan jatah sesuai umurnya.

Angka kematian untuk pendederan berkisar pada 10% sampai 20%, tergantung pada manajemen tambak. Jika tambak dikelola dengan baik maka tingkat kematian bisa ditekan hingga 5%. Pemanenan nener pada umumnya dilakukan secara aktif dan tidak serentak. Artinya nener dipanen sesuai permintaan pasar. Ketika ada permintaan maka nener di jaring ke petak penampungan, selanjutnya nener dihitung dengan menggunakan piring plastik untuk glondongan dan serok kecil untuk kasaran dan semi. Hasil hitungan langsung dimasukkan dalam plastik pengemas dan diberi oksigen murni dengan isi 250 ekor per plastik. Glondongan yang sudah siap di plastik kemudian diangkut dengan sepeda motor atau mobil untuk jarak dekat menuju tambak pembesaran. Jika tambak pembesaran berjarak jauh misalnya sampai keluar pulau maka pengangkutan dilakukan dengan menggunakan truk tangki yang juga harus dilengkapi dengan oksigen murni.

Foto 7 Ukuran Glondongan dan Glondongan yang Telah Dikemas dalam Plastik

 

PEMBESARAN

Output budidaya pembesaran adalah bandeng konsumsi atau bandeng untuk umpan. Bandeng umpan umumnya berukuran 1 ons atau 10 ekor per kg, ukuran ini juga bisa dihasilkan dari tambak pendederan yang disebut balian. Untuk konsumsi umumnya bandeng dipanen ketika ukurannya mencapai 2,5 sampai 3 ons atau 3-4 ekor per kg. Bandeng yang dipanen pada ukuran diatas 0,5 kg per ekor biasa disebut bandeng super kualitas prima.

Pada pengelolaan secara intensif tingkat produksi yang diinginkan ketika panen dapat dihitung dan diperkirakan dengan mudah, jika diketahui tingkat kematiannya. Berdasarkan pengamatan di lapangan tingkat kematian pada tahap pembesaran adalah 40% untuk glondongan umur 21 hari dan 25% untuk glondongan umur 28 hari. Sementara itu indeks pertumbuhan bandeng adalah 0,0005. Dengan data ini maka tingkat produksi yang diinginkan dapat diperoleh dengan rumus berikut :

 

Pembesaran dapat berasal dari tambak yang terintegrasi maupun pembesaran yang memang hanya dirancang untuk tambak pembesaran. Jika pembesaran dilakukan dari tambak yang terintegrasi maka yang harus dilakukan hanyalah membuka tutup petak tambak dari petak pembuyaran. Dalam melakukan pembukaan dari pembuyaran maka beberapa hal harus diperhatikan:

  1. Pemindahan dilakukan saat bulan waktu pasang surut paling besar.
  2. Pemindahan sebaiknya dilakukan malam hari dengan menggunakan cahaya untuk menarik bandeng muda ke arah pintu air petakan yang berhubungan langsung dengan petak pembuyaran atau pembesaran.
  3. Mengubah kondisi tambak untuk membuat bandeng muda menjadi aktif dan siap untuk dipindahkan ke petak buyaran atau pembesaran. Caranya ialah dengan menurunkan ketinggian air tambak sehingga temperatur air tambak meningkat.

Jika pembesaran dilakukan tidak terintegrasi maka penebaran ke tambak pembesaran juga harus dilakukan melalui aklimatisasi. Cara aklimatisasi penebaran nener dapat digunakan disini.

Dalam tambak pembesaran, 10% air tambak setiap hari harus diganti, penggantian dilakukan dengan pompa dan pipa air sehingga air yang terbuang dapat diatur dari bawah.

Panen dari tambak pembesaran dapat dilakukan dengan dua cara yakni panen selektif dan panen total. Pada panen selektif dapat digunakan jaring jala, atau penangkap elektrik. Untuk panen total dapat digunakan jaring kantong atau dengan melakukan pengeringan secara bertahap.

Untuk mendapatkan bandeng kualitas baik maka panen sebaiknya dilakukan pada pagi hari dan bandeng dalam keadaan lapar. Bandeng yang dipanen dalam keadaan kenyang akan cepat menjadi busuk. Setelah ditangkap bandeng segera dimatikan dan dicuci bersih. Pengelolaan pasca panen yang baik dilakukan dengan cara berikut:

  1. Pencucian dilakukan tiga tahap, pertama bandeng dicuci secara keseluruhan dengan air dingin yang ditambah klorin konsentrasi 10 ppm. Kedua, untuk mengeluarkan kotoran pada ingsang dan mulut lakukan pencucian dengan hati-hati. Ketiga untuk menghilangkan bau klorin lakukan pencucian ulang dengan air dingin,
  2. Setelah dicuci dengan seksama bandeng dimasukkan ke dalam kotak khusus ukuran 0,5×0,5×0,5 m yang bagian bawahnya diberi lubang. Untuk menghindari gesekan maka dasar dan dinding kotak diberi alas daun pisang/daun jati dan plastik. Caranya letakkan daun dengan ketebalan sekitar 10 cm kemudian tutup plastik. Di atas plastik letakkan es setebal 10 cm. Letakkan bandeng diatasnya 2 lapis selanjutnya es lagi demikian seterusnya. Pada bagian paling atas diberi lapisan es setebal 15 cm kemudian ditutup daun dan plastik, bandeng siap diangkut.

Foto 8 Panen Bandeng Konsumsi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: